72541850        Hampir sebagian orang tidak menyukai mengunjungi dokter gigi. Ada beberapa orang yang sebegitu traumanya dengan dokter gigi, baru mendengar namanya saja gigi langsung terasa ngilu. Lalu bagaimana caranya supaya kita tidak takut ke dokter gigi, padahal merawat kesehatan gigi dan mulut sangat penting untuk dilakukan sejak dini, terutama rutinitas mengunjungi dokter gigi yang sebaiknya dilakukan setiap 6 bulan sekali.

Bagi buah hati Anda, peran Anda sebagai orangtua sangatlah besar dalam membentuk pola pemeliharaan kesehatan mulut si kecil. Hal ini dimulai dengan memperkenalkan cara menggosok gigi yang benar, kapan waktu yang tepat untuk menggosok gigi, cara merawat alat-alat untuk perawatan gigi, hingga rutin mengunjungi dokter gigi setiap 6 bulan sekali.

Berkunjung ke dokter gigi idealnya dilakukan sebelum terjadi kerusakan dalam rongga mulut, atau sebelum keadaan menjadi parah hingga butuh perawatan invasive (lebih dalam) dan menimbulkan keengganan untuk melanjutkan, karena jika kita ke dokter gigi dalam kondisi sudah terjadi kerusakan dan sakit, maka kita (terutama anak-anak) akan merasa trauma dan takut untuk memeriksakan gigi lagi. Padahal penting sekali memeriksakan gigi ke dokter gigi secara rutin.

Lalu mengapa harus 6 bulan sekali? Karena seringkali gigi yang sulit dijangkau terutama gigi belakang sudah ada lubang atau kerusakan tanpa kita sadari. Selain itu dengan berkunjung rutin, dokter dapat memberikan informasi mengenai tahapan-tahapan perawatan kesehatan gigi dan mulut. Bila dokter gigi dengan alat pengobatannya sudah bisa mendeteksi kerusakan sejak dini, kita juga dapat mendapatkan informasi yang jelas sejak awal hingga tidak salah dalam mengambil tindakan.

Bagaimana caranya mengajak buah hati agar mau mengunjungi dokter gigi? Mudah kok. Sejak dini, perkenalkan ia dengan suasana ruang praktik gigi. Mintalah dokter untuk memperkenalkan diri dengan ramah serta alat-alat yang akan digunakan dalam ruang praktiknya. Untuk lebih mudahnya, carilah dokter gigi anak yang memang lebih terlatih untuk lebih sabar dan ramah dalam mendekati anak-anak, serta memiliki peralatan pengobatan khusus agar mereka nyaman sewaktu melakukan perawatan gigi.

Selain itu, hindari penggunaan ‘ancaman’ dalam konteks perawatan gigi. Misalnya, “Ayo sikat gigi, nanti kalau gigimu berlubang harus dicabut oleh dokter lho!”, dan semacamnya. Hal ini akan tertanam dalam benak anak bahwa mengunjungi dokter gigi berarti akan mengalami sesuatu yang menyakitkan. Berikan stimulus menyenangkan agar anak mau ke dokter gigi, bahkan dengan memberi iming-iming hadiah bila anak mau ke dokter gigi juga tidak ada salahnya.

Intinya, rutin berkunjung ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali selain untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut, juga sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadarannya sejak dini dalam hal perawatan kesehatan gigi dan mulut, dan tentunya membantu proses tumbuh kembang anak agar tidak terganggu.

Iklan